Senin, 13 April 2015

Pasrahkan pada Sang Pemilik Cinta


"Ketika kau gantungkan harapanmu kepada seseorang, Allah akan mengingatkanmu dengan pahitnya rasa kecewa. Itu semata-mata agar kamu tahu betapa cemburu-Nya ketika kau bergantung kepada selain-Nya. Dan itu semata-mata pula agar kamu kembali berharap pada-Nya"


Ketika suaramu tak lagi didengar, keluhmu tak lagi dihiraukan, dan tangismu tanpa isak. Ingin rasanya menyiapkan kaki untuk putar arah lalu berlari menjauh.
Ketika satu kurangmu menutupi ribuan kebaikan yang kau tanam, keikhlasan yang kau jalani, dan ketulusan yang kau beri. Ingin rasanya pergi dari orang yang tidak menghargai itu.

Mimpiku sederhana, dijadikan olehmu sebagai masa sekarang dan masa depanmu.
Mimpiku sederhana, menginginkan pria-ku mengertiku, maka aku memberikan pengertian pula.
Mimpiku sederhana, menginginkan pria-ku soleh, maka aku mensolehkan diriku pula.
Mimpiku sederhana, menjadi pantas berada disisimu, maka aku memperbaiki diriku pula.
Mimpiku sederhana, tidak butuh seorang pria dengan mobil mewah, dompet tebal, maupun dandanan metroseksual yang bahkan perfumenya bisa tercium dari jarak 1km. Hanya ingin pria-ku memberi waktunya dan menjadikanku prioritasnya.
Mimpiku sederhana, dekat dengan keluargamu diselingi canda tawa renyah yang
dapat membuat orang lain iri setengah mati jika melihat, maka aku usahakan berbagai cara; belajar bermacam masakan, belajar tentang urusan rumah, meningkatkan ilmu akhlak, semua tak lain agar aku dapat banyak celah untuk mengambil hati wanita nomor satu di hidupmu. Meyakinkannya untuk rela melepas anak lelaki terbaiknya hanya untukku.
Mimpiku sederhana, menjadi pelengkap setengah agamamu, menjadi ibu dan madrasah pertama bagi anak-anakmu kelak, menyiapkan segala keperluan keluarga kecil kita tanpa pernah mengeluh, mendukungmu, mendoakan kebaikanmu sepanjang hidup.
Sederhana, bukan? Tapi ekspektasi ini sepertinya berlebihan dipandangmu. Kamu menunjukkan bahwa mimpi-mimpi sederhanaku ini terlalu rumit dan menjengkelkan.
Sadar bahwa pengabulan mimpi-mimpiku terletak pada sikap dan sifatmu, semakin hari mimpi-mimpi sederhanaku itu memudar. Seiring dengan ketidaktegasanmu terhadap masa sekarang dan masa depan kita.
Dimatamu, sampai saat ini mungkin aku adalah masih wanita ter-egois yang kau kenal di hampir 3 tahun ini. Egois tentang segala hal yang berhubungan denganmu.
Kau sudah terlalu lelah? Maka beristirahatlah.
Kau sudah terlalu jengah? Maka menyerahlah.
Kali ini aku tidak akan menahanmu dengan keegoisanku.

Aku hanya butuh ketegasan sikap dan kegentlean kata.
Lalu aku akan menyenangkan diri sendiri dengan mengatakan bahwa 'ujian' ku ini telah selesai.
Aku akan menghilangkan rasa seiring pudarnya mimpi-mimpi sederhana tentangmu, aku akan turut serta dibelakang layar -membantumu memudahkan jalan inginmu.
Dan aku, akan ikhlas, fokus perbaiki diri untuk masa depan. Mengosongkan hati dan mempasrahkan segalanya kepada Sang Pemilik Cinta, mengenai siapa, kapan, dan dimana jodoh berada. Menggantungkan harapan hanya pada-Nya. Menanti hadiah terindah dari-Nya.

Jadi, pergilah jika ingin pergi.

Karena orang yang mencintai kita, tidak akan pernah menyakiti kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar