Sabtu, 28 September 2013

Ijinkan aku, Sayang.

... sabtu malam ku sendiri~ tiada teman ku nanti~

Begitu kira-kira, lirik awal sebuah lagu dari Marshanda dengan judul Kisah Sedih di Hari Minggu. Dan begitu pula-lah kira-kira satu lirik yang menjelaskan perasaanku saat ini, sendiri, di sabtu malam, tanpa menanti seseorang, kekasih tepatnya.
Dua hari kita tak saling memberi kabar, sayang. Ah tidak, bahkan bisa di bilang lebih, sudah hampir 2 minggu ini kita tak saling banyak menyapa dan berkomunikasi, apalagi berjumpa. Minggu lalu, kau sibuk dengan acara keluar kota itu. Dan baru aku tau tadi, ketika aku menghubungimu untuk mengajak berkencan di sabtu malam ini, ternyata kau juga sedang berada di luar kota 'lagi' untuk organisasimu itu.
Sedih rasanya, tak pernah menjadi yang diutamakan. Sedih rasanya, tak pernah menjadi yang terpilih diantara kesibukan-kesibukanmu itu. Sedih rasanya, karena sampai sekarang sepertinya tak begitu penting aku di matamu. Mengeluh? Sudah, aku sudah mengeluh pada cermin di kamarku, dengan ribuan kalimat jengkel disertai lelehan airmata yang dengan lancangnya mengucur deras di pipiku. Lalu dengan sujud panjang ketika aku menghadap Tuhan-ku, tapi bukan kalimat jengkel yang keluar ketika sujud itu, sayang, hanya kalimat Do'a meminta Dia menjagamu. Percayalah, aku selalu memintaNya menjagamu; hanya untukku.

Sekarang ini ingin aku bertanya; Apakah kau lelah dengan segala aktivitasmu itu, sayang? Apa kau penat? Apa kau sehat sekarang ini dengan puluhan kegiatan yang kau jalani tiada henti? Sungguh, rasanya ingin sekali sekarang ini aku berada disampingmu, tak apa walau hanya menjadi bantal. Aku ingin kau beristirahat sebentar saja di pelukku, tanpa beban, tanpa memikirkan apapun, membuang segala pikiran-pikiranmu tentang kegiatanmu itu. Buang segalanya sayang! Sebentar saja! Aku akan membantumu menghilangkan segala kepenatanmu itu. Membuat rileks pikiran dan hatimu. Membuatmu nyaman untuk berada disisiku melupakan kelelahanmu itu. Tapi tolong, ijinkan aku.. Dan beri aku kesempatan untuk itu, sayang..

Minggu, 22 September 2013

Keep Khudznuzon (with You, and Allah SWT)

'Resiko punya pacar aktivis Kampus'. Euwh, denger kalimat itu ngeri banget yah, apalagi gue yang ngerasain punya pacar begitu. >,<
Ups, sebelumnya biarkan gue memperkenalkan siapa yang akan gue ceritain disini. Yah, Dedik Arianto, gue biasanya manggil jojo, hehe. Cowo yang satu tahun terakhir ini sukses ngebuat hidup gue penuh warna; dari seneng, sedih, susah, ah, campur aduk deh, gado-gado aja kalah campur aduknya. Bahkan ada kalanya dimana gue ngerasa jadi wanita yang paling bahagia, dan jelas, ada kalanya juga gue ngerasa jadi wanita paling menderita dalam kisah cinta ini. Hiks. Kenapa coba kadang gue ngerasa menderita? Ya karna kalimat pertama di story ini, of course.
Oke, disini gue akan story tentang cowo gue yang nyebelin. Kenapa gue bilang 'cowo gue yang menyebalkan'? Karena emang, jojo ini selaluuuuuu nyebelin nggedegin dan ngeselin banget jadi cowo!!! Kebanyakan ngeyebelinnya daripada nyenenginnya, asli!!! Hih!!! Ah, back to topic my story.
Jojo, 21 tahun, Mahasiswa Semester 7 Jurusan Teknik Elektro di STT-PLN (Sekolah Tinggi Teknik-PLN) Jakarta. Selain statusnya sebagai Mahasiswa, dia juga aktif di Organisasi Kampus, dulu sih dia jadi announcer radio kampusnya, tapi kayanya jabatannya berubah jadi teknisi radio, dan itu dilakoninnya sampe sekarang. Selain itu, sekarang dia juga menjabat jadi Mentri Sosial dan Politik di Badan Eksekutif Mahasiswa di kampusnya. Masih anget banget di ingetan gue beberapa bulan lalu dia bilang dia mau masuk BEM. Dan tau apa respon gue? Ya gue gak terima. Engga! Gue takut nanti dia sibuk dan kita jadi jarang komunikasi. Radio sama kuliahnya aja udah bikin dia cuek yang menghasilkan jadi jarangnya komunikasi kita, apalagi ditambah jadi anggota SosPol BEM. Duhhh membayangkannya saja aku tak mampu waktu itu. >.<
Tapi sekarang setelah dipikir-pikir, kenapa juga dulu gue ngelarang-larang ya, itu kan hak dia, cara dia mengaspirasikan jiwa Mahasiswanya, cara dia 'menjual dirinya' di masyarakat, dan cara dia menjadi seorang Mahasiswa yang ngga 'kupu-kupu' (kuliah pulang kuliah pulang). Dulu sih di BEM SosPol dia masih jadi anggotanya, tapi seiring berjalannya waktu, juga berakhirnya jabatan PresMa lama, dan bergantinya tahun ajaran baru, jadi di Kabinet BEM baru ini dia diangkat deh jadi Mentri SosPolnya, ibaratnya Ketua SosPol gitu lah ya hehe. Shock abis pas dia cerita tentang dia sekarang jadi Mentri SosPolnya. Yang ada dipikiran gue: Oh My God, kumaha nasib gue selanjutnya? Jadi anggota aja dia udah jarang sms, apalagi jadi Mentrinya? :'(
And see, now? Dia makin cuek bebek. Entah karna sifatnya dari lahir emang begitu atau gimana, ngga ngerti. Pernah bahkan dulu, ngga kontek 2 minggu, bener-bener tanpa sms, apalagi telpon, ketemu? Lah apalagi. Di mimpi iya! Sedih? Gue sedih? Ngga usah ditanya! Sedih bangeeeeeettt meeeeeenn. Ditinggal kesana-kesini dengan berbagai aktivitas di Kementriannya, secara SosPol kan ya, jadi rajin-rajin deh tuh jalan-jalan ke kampus-kampus orang. Tau darimana gue kalo dia pergi-pergi ke kampus-kampus orang? Bukan, bukan karena di sms sama dia di kasih tau, tapi gue taunya pas ketemu, dia cerita semuanya. Jadi kalo ketemunya sebulan setelah dia pergi ke kampus orang atau ke acara-acara, ya emang basi lah tu cerita. But, it's so funny for me. Ketika dia bercerita tentang segala hal yang dia alamin, itu sangat sangat menyenangkan buat gue denger, berasa di dongengin, dan tentu jadi banyak tambahan ilmu yang gue dapet dari cerita-cerita dia. Dan satu lagi, karena gue 'suka nanya', jadi seneng aja kalo tiap nanya eh dijawab sama dia segala halnya. Hehe. Belom lagi tugas BEM lain yang udah di depan mata dia yang akan dia laksanain. Jadwal sampe bulan Oktober yang udah full, weekend yang biasanya buat gue juga udah jadi kaya week day, kaya hari hari biasanya, minggu pun dia ke kampus, tiap hari pun pulang malem gak jelas jamnya. Malah sering gue yang notabene kuliah malem dan pulang kuliah jam 10 malem, eh dia yang kuliah pagi juga baru pulang. Duh, Itulah yang membuat dia jadi seorang cowo yang jarang banget banget BANGET merhatiin cewenya, gue. Miris abis. T_T
Gue rasa semua cewe butuh perhatian dari cowonya, butuh di sayang, dan semua hubungan butuh komunikasi. Dulu, beberapa kali, gue sempet pengen nyerah sama hubungan ini. Iya lah, gue cewe, dan seperti apa kata gue diatas, cewe butuh perhatian, kaya cowo yang butuh kepercayaan. Kemarin 4 hari kita juga gak saling ngabarin, dan lagi lagi, gue hampir nyerah 'lagi. Tapi gue solat, do'a, selalu minta yang terbaik sama Allah, dan minta untuk dikasih khudznuzon ke jojo, yaudah lah khudznuzon pokonya, mikir baik-baik aja, mungkin dia lagi sibuk banget makanya gak ngabarin, iya khudznuzon, selalu khudznuzon pokonya! Dan lalu, ketika gue iseng buka twitter, tiba-tiba gue baca di timeline twitter ada @WOWkonyol, begini katanya:


"It will heal you." "Ini akan menyembuhkanmu." Setelah baca tulisan itu, jadi mikir semikir-mikirnya. Ya Rabb, iya yah, kenapa gue mesti nunggu di perhatiin? Kenapa ngga gue aja yang emang mampu dan sangat bisa untuk ngasih perhatian ke jojo ya perhatian ke dia? Lagian apa salahnya? Toh itu hak dia juga dan kewajiban gue sebagai cewenya. Dan lagi, toh dia juga gak macem-macem kok disana, insya Allah. Dia cuma menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai Mahasiswa, apa yang salah? Apa yang patut di adilin? Ngga ada kan? Toh ketika dia punya waktu dia juga sms gue, ngajak smsan, ngajak ketemu, berbagi semua halnya. Sesibuk-sibuknya dia dia juga ngga lupa kok sama gue, dia juga PASTI dan AKAN ngeluangin waktunya buat gue, disini gue hanya dituntut agar ngerti gimana dia, kondisi dia, keadaan dia, dan ngga ngadilin dia dengan judge yang aneh-aneh, itu cukup. Trus apa lagi yang mesti di salahin? Udah gede, udah sama-sama dewasa. Masing-masing punya mimpi dan cita-cita yang harus dikejar. Dia dengan semangatnya sendiri ngejar mimpinya, begitupun gue, gue bisa nyimak dan niru semangatnya untuk gue ngerjar mimpi gue. Bangga, bangga banget gue sama dia, dan pasti akan lebih bangga ketika dia mampu membagi rata dan adil terhadap semua halnya. Tapi gapapa, tugas gue sekarang gue harus ngedukung apapun yang dia lakuin, dan selalu ngejaga & meluk dia lewat Do'a. Kalo lagi kangen ya tinggal nangis, ribet amat huehehe. >,<

So, ending dari cerita ini adalah tentang 'khudzuzon', terutama khudznuzon sama Allah, berbaik sangka sama Allah. Apapun yang Allah kasih, lelaki seperti apapun kekurangan dan kelebihannya, ketika kita mampu tulus ikhlas dan sabar sayang sama dia, Allah juga bakal ngasih jalan kok, Allah Maha Tahu apa-apa yang terbaik untuk hambaNya. Aamiin. :)

Selasa, 17 September 2013

Dia adalah Duniaku.

Dia adalah Duniaku.

Melihatnya membuatku seperti berteduh. Berada di dekatnya membuatku seolah wanita yg sangat terlindungi.
Kepadanya aku berterima kasih; untuk setiap cinta yang aku temukan, untuk bagaimana telah membuat jantungku berdegup cepat ketika bertemu, untuk membuat keremajaanku berubah menjadi anak kecil dengan cinta monyetnya.
Kepadanya aku berterima kasih, untuk telah menunjukkan seperti apa isi dunia, walau kadang hanya sebatas dongeng nyata.
Dan kepadanya aku berterima kasih, karena telah membuat mimpi-mimpi kecilku menjadi nyata.
Darinya aku belajar tentang apa itu sabar, sabar bahwa tidak semua hal dapat terwujud dan butuh lebih dari sekedar kerja keras untuk itu, dia adalah inspirasiku.
Darinya aku belajar tentang apa itu menunggu, tentang akan betapa indahnya akhir dari menunggu.
Dan darinya aku belajar untuk selalu berfikir positif, untuk tidak meninggalkannya, dan untuk tetap selalu disisinya menjaga apa yang disebut 'kita'.






Aku begitu menyayanginya.. 
Dia adalah Duniaku.